0


Saif Al Battar

Selasa, 16 Agustus 2011 11:16:20

Hits: 1278

Perkembangan Nushairiyah

Tokoh-tokoh yang paling berperan dalam menyebarkan sekte Nushairiyah sejak zaman pendirinya adalah sebagai berikut:

Abu Syu’aib Muhammad bin Nushair An-Numairi, pendiri gerakan ini. Ia mengklaim dirinya adalah nabi dan al-bab yang menghubungkan kaum Syi’ah dengan imam kesebelas mereka, Abul Hasan Al-Askari, dan terakhir mereka, Muhammad Al-Mahdi bin Abul Hasan Al-Askari. Ia meyakini Ali dan para imam keturunannya adalah Tuhan, meyakini reinkarnasi, menghalalkan homoseksual dan menikah dengan mahram. Ia mengambil kota Samira sebagai pusat gerakannya, sampai ia mati pada tahun 260 H (atau tahun 270 H menurut keterangan sebagian pakar sejarah).

Pemimpin dan propagandis kedua adalah Muhammad bin Jundab. Riwayat hidup dan propaganda serta seberapa besar perannya bagi perkembangan gerakan Nushairiyah masih terlalu rumit untuk diungkapkan. Namun kelompok Nushairiyah mengakuinya sebagai pemimpin kedua mereka.

Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al-Hanan Al-Janbalani adalah penerusnya yang menggantikannya sebagai al-bab. Ia tinggal di daerah Janbalan, Iran dan membentuk sebuah tarekat sufi Syi’ah bernama tarekat Janbalaniyah. Ia memimpin Nushairiyah sampai saat ia mati tahun 287 H.

Husain bin Ali bin Husain bin Hamdan Al-Khusaibi. Al-Jambalani merekrutnya sebagai murid utama saat ia menyebarkan pemikirannya di Mesir. Al-Khusaibi mengikuti gurunya ke Janbalan, mendalami ajaran sektenya, sampai diangkat sebagai pengganti gurunya. Ia lantas meninggalkan Iran dan pergi ke Iraq. Ia menyebarkan dakwahnya dan memimpin sektenya dengan Baghdad sebagai pusat gerakannya mempergunakan pengaruh kekuasaan Bani Buwaih. Saat itu kekuasaan daulah Abbasiyah dikendalikan oleh Bani Buwaih, sebuah marga Syi’ah ekstrim dari Persia. Sebagai penguasa beraliran Syi’ah ekstrim, Bani Buwaih mempergunakan kekuatan politik, ekonomi, dan militer untuk mendukung semua gerakan Syi’ah, termasuk Nushairiyah dan Syi’ah Isma’iliyyah. Tak heran apabila selama 113 tahun masa kekuasaan Bani Buwaih, 334-447 (945-1055 M), Nushairiyah mendapatkan keleluasaan untuk bergerak dan menyebar luaskan ajarannya. Oleh karenanya, kelompok Nushairiyah menganggap para penguasa Bani Buwaih adalah pemimpin suci mereka.

Al-Khushaibi lantas berkeliling ke berbagai wilayah dalam rangka menyebar luaskan jaringan sektenya. Pada akhirnya, ia mengambil kota Halb (Alepo) di Suriah sebagai pusat gerakannya. Hal itu karena gerakannya mendapat dukungan penuh dari penguasa daulah Hamdaniyah, Saifud Daulah Ali bin Hamdan Al-Hamdani. Al-Khushaibi adalah tokoh yang menyusun dan menuliskan dasar-dasar ajaran Nushairiyah. Kepada Saifud Daulah Al-Hamdani, ia menghadiahkan dua karyanya yang merupakan buku pegangan kelompok Nushairiyah, Al-Hidayah dan Al-Maidah.

Syaikh Isa Sa’ud, ulama besar Nushairiyah di propinsi Ladziqiyah, menulis dalam majalah Al-Amani edisi perdana dan kedua (1930 M) bahwa berkat dukungan Saifud Daulah, maka para komandan militer, pejabat pemerintahan, sastrawan, dan penulis berbondong-bondong mendukung Nushairiyah. Berkat Saifud Daulah pula, Nushairiyah mampu menyebarkan ajarannya ke Suriah, Mesir, Irak, dan negeri-negeri non-Arab lainnya. Pada saat yang sama, kepemimpinan daulah Abbasiyah di masa khalifah Al-Mustakfi billah semakin melemah. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh penguasa Bani Buwaih di Irak, Ahwaz, dan Persia untuk menyebar luaskan paham Nushairiyah.

Hal yang penting untuk dicatat, pada saat itu ada seorang pejabat tinggi dalam daulah Abbasiyah yang menjadi simpatisan dan pendukung berat Nushairiyah. Ia adalah mentri Ibnu Furat yang beraliran Syi’ah. Nama lengkapnya adalah Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Musa (241-312 H). Ia hidup sezaman dengan empat tokoh utama pendiri dan propagandis Nushairiyah; Ibnu Nushair an-Numairi, Ibnu Jundab, Al-Janbalani, dan Al-Khushaibi. Ibnu Furat dijatuhi hukuman penjara sampai mati oleh khalifah Al-Mu’tadhid billah dan Al-Mu’tadir billah.

Al-Khushaibi dengan demikian adalah pemimpin Nushairiyah yang paling brilian dan sukses. Ia adalah penyusun dan pengembang buku-buku induk pegangan kelompok Nushairiyah. Oleh karenanya, ia dijuluki syaikh ad-din. Dalam menyebarkan propagandanya, ia dibantu oleh murid andalannya, Umar Thawil (260-358 H). Al-Khushaibi mati pada tahun 346 H. Kuburannya di sebelah utara kota Halb sampai saat ini masih diziarahi dan dianggap suci oleh kaum Nushairiyah.

Sepeninggal Al-Khushaibi, gerakan Nushairiyah memiliki dua pusat gerakan: (a) Pusat terbesar gerakan berada di Halb dengan tokohnya Muhammad bin Ali Al-Jaili. (b) Pusat gerakan di Baghdad dengan tokohnya Ali Al-Jasri.

Pusat gerakan Nushairiyah di Baghdad hancur bersamaan dengan dibumi hanguskannya kota Baghdad oleh pasukan Mongol pimpinan Hulakho Khan, tahun 656 H. Pusat gerakan Nushairiyah sepenuhnya berada di Halb, Suriah. Kepemimpinan Nushairiyah di Halb pada akhirnya dipegang oleh Abu Sa’id Al-Maimun Surur bin Qasim Ath-Thabrani adalah tokoh pelanjut gerakan ini. Ia lahir di kota Thabariyah, utara Palestina pada tahun 358 H. Ia berpindah ke Halb dan belajar langsung kepada Muhammad bin Ali Al-Jaili, sampai akhirnya menjadi penggantinya sebagai pemimpin Nushairiyah dan tarekat Janbalaniyah. Ia lalu memindahkan pusat gerakan dari Halb ke propinsi Ladzikiyah karena gencarnya serangan suku-suku muslim Kurdi dan Turki kepada mereka. Suku-suku Kurdi dan Turki berjihad untuk meIawan kekufuran kelompok Nushairiyah. Abu Sa’id Al-Maimun mati pada tahun 426 H. Kuburannya diziarahi dan disucikan oleh pengikutnya sampai hari ini.

Setelah itu kepemimpinan Nushairiyah silih berganti, sampai akhirnya dipegang oleh gubernur Hasan Makzun As-Sinjari An-Nushairi. Dengan pasukan Nushairiyah berkekuatan 50.000 prajurit, ditambah gabungan sekte Syi’ah Ismailiyah Aghan Khan, ia berhasil mengusir suku-suku Kurdi dan merebut gunung Nushairiyah dan Kalbiyah serta benteng Abu Qubais di propinsi Ladzikiyah. Peristiwa itu terjadi pada tahun 620 H Ia adalah pemimpin agama dan militer yang berhasil mengokohkan pegunungan Nushairiyah di propinsi Ladzikiyah sebagai pusat gerakan Nushairiyah. Ia mendesak suku Kurdi sampai ke wilayah ‘Acre, Lebanon. Pusat gerakannya berada di benteng Abu Qubais. Ia menyusun dan menulis ulang ajaran-ajaran Nushairiyah, sampai ia mati pada tahun 638 H. Kuburannya di kampung Kafr Susah dekat dataran tinggi Golan diziarahi dan disucikan oleh pengikutnya sampai hari ini.

Selama masa berlangsungnya perang Salib dan serangan bangsa Mongol, kelompok Nushairiyah meninggalkan daerah pegunungan propinsi Ladziqiyah dan berpindah ke daerah-daaerah pantai. Hal itu untuk membantu pergerakan tentara Salib Eropa dan tentara musyrik Mongol untuk menghancurkan pasukan Islam di Suriah, Lebanon, dan Palestina. Penulis Nushairiyah kontemporer, Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil menjelaskan bahwa pada saat itu, kelompok Nushariyah hidup membaur bersama pasukan Salib Eropa. Ia menulis dalam bukunya Tarikh Al-‘Alawiyyin, “Sehingga bangsa Alawi memiliki keutamaan khusus dan sifat-sifat istimewa yang menyerupai seluruh kelompok Arab dan Turki lainnya, seperti kelompok Masehi (Nashrani—edt), Yahudi, Romawi, dan lain-lain

Ketika pasukan Salib Eropa berhasi diusir dari bumi Syam oleh pasukan Islam, maka kelompok Nushairiyah kembali ke pegunungan dan melancarkan makar mereka secara sembunyi-sembunyi. Mereka baru kembali melancarkan serangan secara terang-terangan kepada umat Islam, saat tentara Mongol pimpinan Timur Lank (1336-1405 M) menyapu dunia Islam. Kelompok Nushairiyah bahu-membahu dengan Timur Lank yang beraliran Syi’ah ekstrim untuk menghancurkan kaum muslimin di Syam dan Iraq. Timur Lank melakukan perusakan, pembakaran, dan pembantaian keji terhadap kaum muslimin saat menaklukkan Damaskus dan Baghdad. Persekongkolan keji Nushairiyah dengan Timur Lank ini diakui sendiri oleh para tokoh dan penulis Nushairiyah, seperti Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil dalam bukunya Tarikh Al-‘Alawiyyin. Peristiwa ini juga dicatat oleh para sejarawan dan pakar perbandingan agama dan sekte, seperti Prof. DR. Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya Al-Madzahib Al-Islamiyyah dan Amin Ar-Raihani dalam bukunya An-Nakbat: Khulashah Tarikh Suriyah mundzu al-‘ahd al-awwal li-thufan ila al-‘ahd al-jumhury bi-Lubnan.

Para pemimpin Islam telah berkali-kali mencoba mendakwahi dan mentarbiyah mereka agar kembali kepada kebenaran. Usaha pertama dilakukan oleh sultan Shalahudin Al-Ayubi (daulah Ayyubiyah) setelah berhasil mengalahkan pasukan Salib Eropa. Ia membangun masjid di setiap perkampungan Nushairiyah, mendakwahi mereka sampai mereka menampakkan kembali kepada Islam. Ia mewajibkan mereka untuk melaksanakan shalat, shaum Ramadhan, dan kewajiban-kewajiban Islam lainnya. Usaha kedua dilakukan oleh sultan Zhahir Baybars (daulah Mamalik) setelah berhasil mengalahkan tentara Mongol dari negeri Syam. Dan usaha ketiga dilakukan oleh sultan Salim Al-Utsmani (daulah Utsmaniyah) setelah mengalahkan mereka dalam jihad yang lama. Setiap kali kelompok Nushairiyah dikalahkan dalam jihad lalu didakwahi dan ditarbiyah, maka mereka menampakkan keislaman, mengerjakan shalat, shaum Ramadhan, mengharamkan homoseksual dan minuman keras, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam lainnya. Namun begitu para penguasa muslim yang kuat tersebut digantikan oleh para penguasa yang lemah, maka kelompok Nushairiyah kembali murtad. Mereka menghancurkan masjid-masjid dan menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah. Pengembara internasional, Ibnu Bathuthah, menjadi saksi hidup atas hal itu saat mengunjungi negeri Syam pada abad 9 H, sebagaimana ia tulis dalam ensiklopedi pengembaraannya, Tuhfatun Nazhar fi Gharaibil Amshar wa ‘Ajaibil Asfar.

Pada abad belakangan, gubernur Mesir yang berada di bawah kuasa Daulah Utsmaniyah, Ibrahim Basya bin Muhammad Ali Basya mengulangi kembali usaha dakwah dan tarbiyah terhadap kelompok Nushairiyah. Ia membangun masjid-masjid dan madrasah-madrasah, mengirim para dai sehingga mereka masuk Isam, mewajibkan mereka untuk melaksanakan shalat, shaum, meninggalkan homoseksual dan minuman keras, dan menaati syariat Islam lainnya. Pada saat lemah, mereka menampakkan keislaman. Namun saat kekuatan mereka berhasil dibangkitkan, mereka kembali murtad, membakar masjid-masjid dan madrasah-madrasah, dan melakukan kudeta militer pada tahun 1834 M di propinsi Ladzikiyah. Pemberontakan mereka bisa dipadamkan oleh Ibrahim Basya.

Usaha terakhir dilakukan oleh sultan Abdul Hamid II dari daulah Utsmaniyah dengan mengangkat Dhiya’ Basya untuk menjalankan program dakwah, tarbiyah, dan ishlah sebagaimana telah berkali-kali dilakukan oleh penguasa Islam terdahulu. Hasil dari semua usaha tersebut hanyalah pengulangan dari apa yang sudah terjadi. Begitu kekuatan daulah Utsmaniyah melemah, mereka kembali murtad dan memusuhi kaum muslimin. Terlebih, setelah itu daulah Ustmaniyah telah dikuasai oleh kelompok nasionalis-sekuleris Turki dan tengah teribat Perang Dunia I melawan penjajah saibis Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutunya. Tak heran apabila kelompok Nushairiyah kembali bersekongkol dengan Perancis dan Inggris.

Kelompok Nushairiyah berulangkali melakukan penyerangan dan pemberontakan terhadap kekuasaan Islam. Di antara contohnya adalah pemberontakan besar Nushairiyah tahun 717 H di negeri Syam di bawah pimpinan seseorang yang mengaku sebagai Muhammad bin Hasan Al-Mahdi Al-Qaim bi-Amrillah.Mereka berhasil merebut propinsi Jabalah, membantai warganya, meruntuhkan masjid-masjid dan menjadikannya sebagai warung-warung minuman keras. Semboyan mereka adalah Laa Ilaaha Illa ‘Aliyy, wa laa hijaaba illa Muhammad, wa laa baab illa Salman (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Ali, tidak ada al-hijab (utusan Tuhan) selain Muhammad, dan tidak ada al-bab (perantara antara utusan Tuhan dengan manusia) selain Salman. Mereka mencaci maki shahabat Abu Bakar dan Umar, dan memaksa setiap muslim yang mereka tawan untuk bersaksi :”Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Ali, aku bersujud kepada Tuhanku Al-Mahdi Yang Menghidupkan lagi Mematikan…” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, 14/83-84)

Pada saat penjajah Perancis menduduki Suriah tahun 1920 M, pimpinan dinas inteijen Perancis kapten Blondel berkumpul dengan para tokoh Nushairiyah di Ladzikiyah. Mereka sepakat untuk menjadikan propinsi Ladzikiyah (pusat gerakan Nushairiyah) sebagai negara merdeka dan memisahkan diri dari negara Suriah. Maka kelompok Nushairiyah memproklamasikan berdirinya negara Ladzikiyah, dengan Sulaiman Al-Mursyid (pemimpin besar Nushairiyah saat itu) sebagai presidennya. Atas saran dari Inggris, Sulaiman Al-Mursyid mengklaim dirinya adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Untuk tujuan itu, Perancis merancang jas kepresidenan yang di dalamnya dipasangi rangkaian elektronik dengan batu baterei dan sakelar yang berada di saku jasnya. Cukup dengan memencet sakelar dalam sakunya, maka memancarlah cahaya dari rangkaian listrik dalam jas itu. Pada saat itulah, seluruh pengikut Nushairiyah dan dinas intelijen Perancis bersujud kepada Sulaiman Al-Mursyid dengan membaca doa: “Anta Ilahii…Engkaulah Tuhan sesembahanku.”

Pada tahun 1938 M, presiden ‘Tuhan’ Nushairiyah, Sulaiman Al-Mursyid, meresmikan pengangkatan para hakim dan pembentukan angkatan bersenjata Nushairiyah untuk mempertahankan negara Nushairiyah Ladzikiyah. Ketika negara Suriah berhasil meraih kemerdekaan dan mengusir penjajah Perancis, pemerintah Suriah segera memadamkan pemberontakan Nushairiyah ini. Pasukan Suriah berhasil meruntuhkan negara Ladzikiyah dan Sulaiman Al-Mursyid tertangkap pada tahun 1946 M (1366 H). Ia dihukum mati. Kelompok Nushairiyah lalu mengangkat anaknya, Mujib Al-Mursyid. Sebagaimana bapaknya, Mujib Al-Mursyid juga mengaku sebagai Tuhan. Pada tahun 1951 M, dinas intelijen Suriah berhasil membunuh Mujib Al-Mursyid. Setiap kali menyembelih hewan, pengikut Nushairiyah membaca doa: ”Dengan nama Mujib Yang Maha Besar, dari tanganku untuk memotong leher Abu Bakar dan Umar.”

DR. Mujahid Al-Amin dalam bukunya, Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyah, mencantumkan dokumen rahasia Nushairiyah yang secara resmi disiarkan oleh Departemen Luar Negeri Perancis dengan no. 3547 tertanggal 15 Juni 1936 M. Dokumen itu adalah surat resmi kelompok Nushairiyah Suriah kepada perdana mentri Perancis. Isinya adalah permohonan untuk mempertahankan pasukan Perancis di Suriah, ucapan selamat kepada para imigran Yahudi dari seluruh dunia yang masuk ke Palestina, dan provokasi untuk memerangi kaum muslimin. Surat itu ditanda tangani oleh para pemimpin Nushairiyah Suriah pada tahun 1936; Sulaiman Al-Asad, Muhammad Sulaiman Al-Ahmad, Mahmud Agha Hadid, Aziz Agha Hawasy, ‘Tuhan” Sulaiman Al-Mursyid, dan Muhammad Bek Junaid.

Para perang Arab-Israel 1967 M, kelompok Nushairiyah kembali bersekongkol dengan Yahudi dalam memerangi kaum muslimin. Kelompok Nushairiyah yang berhasil melakukan kudeta militer dan menjadi penguasa Suriah lewat kendaraan partai sosialis Baath menyerahkan dataran tinggi Golan secara cuma-cuma kepada negara Yahudi Israel. Dokumen rahasia tokoh-Nushairiyah seputar keganjilan dan konspirasi Nushairiyah Suriah-Yahudi Israel dalam perang 1967 M tersebut akhirnya bocor dan dipublikasikan oleh perdana mentri Yordania, Sa’ad Jum’ah, tahun itu juga dalam bukunya Mujtama’ul Karahiyah. Dalam dokumen Nushairiyah itu dijelaskan, bahwa Nushairiyah meyakini rasul dan al-bab mereka Abu Syu’aib Muhammad bin Nushair An-Numairi telah berinkarnasi dalam sosok seorang pemimpin yang buta salah satu matanya, muncul dari arah selatan, bergerak dan menaklukkan Damaskus, lalu bergerak ke utara untuk memberikan ketaatan kepada Tuhan si Buta salah satu matanya. Jika dua Tuhan yang buta salah satu matanya telah berstu, niscaya kekuasaannya akan bertahan selama 70 tahun. Menurut keyakinan para pemimpin Nushairiyah, Abu Syu’aib berinkarnasi dalam sosok Mose Dayan, si Jagal Yahudi itu. (Sa’ad Jum’ah, Mujtama’ Al-Karahiyah, hlm. 62-75)

Sepeninggal gubernur Hasan Makzun As-Sinjari, kelompok Nushairiyah terpecah dalam beberapa pusat pergerakan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh yang digelari syaikh. Antara satu pusat ggerakan dengan pusat gerakan lainnya tidak terjalin hubungan. Hal itu bertahan selama ratusan tahun. Sampai akhirnya pada tahun 1966 M, Nushairiyah berhasil naik ke puncak kekuasaan tertinggi di Suriah. Menunggangi partai sosialis Baath, mereka melakukan kudeta militer dan sukses mengantarkan pemimpinnya, Hafez Al-Assad menjadi perdana mentri lalu sebagai presiden (22 Februari 1971-10 Juni 2000 M). Ia segera menjadi diktator bertangan besi yang menjadikan kelompok Nushairiyah yang hanya 10 % dari keseluruhan penduduk Suriah, sebagai pemegang kendali semua urusan (politik, ekonomi, militer, pendidikan, kebudayaan, keagamaan) di Suriah. Sejak saat itulah, pembantaian demi pembantaian keji mereka lancarkan terhadap mayoritas penduduk Suriah yang beragama Islam dari madzhab ahlus sunnah wal jama’ah. Untuk menutupi kemurtadan mereka, nama yang mereka angkat adalah ‘Partai Sosialis Baath’, “pembangunan dan kebebasan” dan slogan-slogan palsu lainnya. Kini, kekejaman rezim Bashar Al-Assad (10 Juni 2000-…) terus berlangsung, meneruskan dendam berabad-abad agama Nushairiyah terhadap Islam dan kaum muslimin.

(Selengkapnya lihat: Alwi As-Saqqaf, An-Nushairiyah, hlm. 12, Dr. Sulaiman Al-Halabi, Thaifah An-Nushairiyah, hlm. 39-42, Mamduh Al-Buhairi, Mausu’ah Firaq Asy-Syi’ah, hlm.114-115 dan Dr. Muhammad bin Ahmad Al-Khathib, Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 325-339)

Dikirim pada 24 Agustus 2011 di Ketahuilah!!!


Oleh: Muhib Al Majdi / Arrahmah.com

Tidak banyak kaum muslimin yang mengetahui hakekat peristiwa yang tengah terjadi di Suriah. Banyak di antara kaum muslimin yang menyangka kebiadaban rezim Suriah tersebut semata-mata didasari oleh kepentingan politik untuk menyelamatkan kekuasaan rezim Partai Baath, partai sosialis yang telah mencengkeram rakyat Suriah selama puluhan tahun dengan kekuatan senjata. Belum banyak yang tahu bahwa kebiadaban rezim partai Baath juga dilatar belakangi oleh faktor ideologi dan agama. Ya, partai Baath telah didominasi oleh kelompok Nushairiyah sejak era Hafizh Asad. Kelompok Nushairiyah merupakan bagian dari sekte Syi’ah esktrim yang telah dihukumi murtad dari Islam oleh seluruh ulama kaum muslimin. Jadi, rezim Syi’ah esktrim tengah mempertontonkan kebiadannya kepada mayoritas rakyat yang beragama Islam, ahlus sunnah wal jama’ah. Demonstrasi damai versus kebiadaban militer di Suriah sejatinya adalah pertaarungan dua agama: Islam versus Nushairiyah.

Tidak heran bila Iran yang beragama Syi’ah Imamiyah (biasa juga disebut Syi’ah Itsna Atsariyah atau Syi’ah Ja’fariyah) getol memberikan dukungan militer, politik, dan ekonomi kepada rezim Syi’ah Suriah. Dua aliran Syi’ah ekstrim telah bertemu untuk menghabisi musuh bersama; mayoritas rakyat Suriah yang beragama Islam aliran Ahlus Sunnah. Bila ditambah kekuatan Syi’ah Lebanon (dengan milisi Hizbul Laata —plesetan dari nama sebenarnya, Hizbullah), kekuatan Israel, dan Kristen Libanon yang juga memusuhi Ahlus Sunnah; maka rakyat muslim sunni Suriah tengah terkepung dari seluruh penjuru. Umat Islam sedunia sudah seharusnya terus memberikan dukungan kepada perjuangan rakyat Suriah, sebagaimana dukungan mereka kepada perjuangan rakyat muslim Mesir, Tunisia, dan Palestina. Para ulama dan tokoh umat Islam wajib membongkar kedok rezim Nushairiyah Suriah, sehingga wala’ dan bara’ kaum muslimin jelas. Berikut ini sebagian fatwa ulama Islam yang menjelaskan hakekat kelompok Nushairiyah dan partai Baath.

Fatwa tentang Sekte Nushairiyah

Fadhilah syaikh Hamud bin ‘Uqla Asy-Syu’aibi hafizhahullah

As salaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh

Siapa sebenarnya kelompok Nushairiyah itu? Kepada siapa mereka menisbahkan diri? Kapan kelompok ini muncul? Di negeri mana saja keberadaannya? Bagaimana ajaran agama mereka? Bagaiamana pendapat para ulama tentang mereka? Bolehkah memberikan ucapan selamat atas hari-hari kebahagiaan mereka dan memberikan ucapan bela sungkawa atas musibah yang menimpa mereka? Bolehkah menshalatkan jenazah mereka?

Berilah kami fatwa dalam masalah ini, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan

Jawab:

Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh shahabatnya. Amma ba’du…
Jawaban atas beberapa pertanyaan di atas membutuhkan satu jilid buku tersendiri. Untuk itu, kami akan menjawab secara ringkas saja:

Nushairiyah adalah salah satu kelompok Syi’ah ekstrim yang muncul pada abad ketiga Hijriyah. Berbagai aliran keagamaan yang kafir seperti Bathiniyah, Ismailiyah, Budha, dan sekte-sekte kafir yang berasal dari agama Majusi masuk bergabung ke dalam kelompok Nushairiyah. Nushairiyah banyak terdapat di Suriah dan negara-negara yang bertetangga dengan Suriah.

Nushairiyah menisbahkan kelompoknya kepada seorang yang bernama Muhammad bin Nushair An-Numair, yang mengklaim dirinya sebagai nabi dan menyatakan bahwa Abul Hasan Al-Askari —-imam ke-11 kelompok Syi’ah— adalah Tuhan yang telah mengutus dirinya sebagai nabi.

Ajaran agama Nushairiyah tegak di atas dasar akidah yang rusak dan ritual-ritual ibadah yang usang hasil pencampur-adukkan dari ajaran Yahudi, Nashrani, Budha, dan Islam. Di antara akidah sesat kelompok Nushairiyah adalah:

1. Kultus individu yang esktrim terhadap diri sahabat Ali bin Abi Thaib dengan meyakini beliau adalah Rabb (Tuhan Yang Maha Menciptakan, Maha Mematikan, Maha Memberi rizki, Maha Mengatur alam—edt), Ilah (Tuhan yang berhak disembah—edt), dan Pencipta langit, bumi, dan seluruh makhluk. Di antara bentuk penyembahan mereka kepada Ali bin Abi Thalib adalah semboyan agama mereka:

( لا إله إلا حيدرة الانزع البطين ، ولا حجاب عليه إلا محمد الصادق الأمين ، ولا طريق إليه إلا سلمان ذو القوة المتين ..)

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Haidarah (Singa betina, julukan Ali—edt) ksatria yang terpercaya

Tiada hijab (penghalang) atasnya kecuali Muhammad Ash-Shadiq Al-Amin (yang jujur lagi terpercaya)

Dan tiada jalan menujunya kecuali Salman Dzul Quwwatil Matin (pemilik kekuatan yang perkasa).

Dari semboyan mereka ini nampak jelas bahwa kelompok Nushairiyah lebih kafir dari kaum Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrik sekalipun karena dengan ucapan ini mereka menyandarkan penciptaan dan pengaturan seuruh makhluk kepada Ali bin Abi Thalib. Sedangkan kaum Yahudi, Nasrani, dan musyrik mengakui bahwa Allah SWT adalah Sang Pencipta dan Sang Pengatur urusan seluruh makhluk.

2. Mereka meyakini reinkarnasi, yaitu meyakini bahwa jika seorang manusia meninggal dunia maka ruhnya berpisah dengan jasadnya dan memasuki jasad makhluk lain. Baik jasad manusia maupun jasad hewan, sesuai jenis amal perbuatannya saat ia masih hidup. Jika amal perbuatannya baik, maka ruhnya akan menempati jasad manusia atau hewan yang mulia. Adapun jika amal perbuatannya buruk, maka ruhnya akan menempati jasad hewan yang hina, seperti anjing dan lain sebagainya. Hakekat dari keyakinan ini adalah meyakini bahwa dunia ini tidak akan rusak, tidak akan pernah berakhir, tidak ada kebangkitan setelah mati, tidak ada surga, tidak ada neraka…ruh akan senantiasa berpindah dari satu jasad ke jasad lainnya sampai suatu saat yang tidak akan pernah berakhir. Keyakinan yang rusak ini mereka ambil dari agama Budha, karena keyakinan reinkarnasi adalah salah satu pokok ajaran agama Budha.

3. Di antara pokok ajaran akidah mereka yang sangat mengakar kuat adalah kebencian dan permusuhan yang sangat keras terhadap Islam dan kaum muslimin. Sebagai bentuk permusuhan dan kebenciaan mereka kepada Islam, mereka menjuluki shahabat Umar bin Khatab dengan julukan ‘Iblisul Abalisah’ (rajanya para iblis). Adapun tingkatan iblis setelah Umar menurut keyakinan mereka adalah Abu Bakar kemudian Utsman.

4. Mereka mengharamkan ziarah ke kuburan Nabi Muhammad SAW karena di samping makam beliau SAW terdapat makam shahabat Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar bin Khathab.

Pada zaman dahulu keberadaan agama sesat Nushairiyah ini terbatas pada sebuah tempat di negeri Syam dan mereka tidak diberi peluang untuk memegang posisi dalam bidang pemerintahan maupun bidang pengajaran, berdasar fatwa syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Keadaan itu terus berlanjut sampai akhirnya penjajah Perancis menduduki negeri Syam. Perancis memberi mereka julukan baru ‘Al-Alawiyyin’ (keturunan atau pendukung Ali bin Abi Thalib—edt), memberi mereka kesempatan mendiami seantero negeri Syam, dan mengangkat mereka sebagai pemegang jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan penjajah Perancis di Syam.

Adapun pendapat para ulama Islam tentang kelompok Nushairiyah…sesungguhnya para ulama Islam telah menyatakan Nushairiyah adalah kelompok yang telah keluar dari agama Islam (kelompok murtad—edt), karena agama mereka tegak di atas dasar syirik, keyakinan reinkarnasi, pengingkaran terhadap kehidupan setelah mati, surga, dan neraka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah ditanya tentang status kelompok Nushairiyah, maka beliau menjawab:

الحمد لله رب العالمين .. هؤلاء القوم المسمون بالنصيرية هم وسائر أصناف القرامطة الباطنية اكفر من اليهود والنصارى بل اكفر بكثير من المشركين ، وضررهم على أمة محمد صلى الله عليه وسلم أعظم من ضرر الكفار المحاربين فإن هؤلاء يتظاهرون عند جهال المسلمين بالتشيع وموالاة أهل البيت وهم في الحقيقة لا يؤمنون بالله ولا برسوله ولا بكتابه ولا بأمر ولا بنهي ولا ثواب ولا عقاب ولا بجنة ولا بنار ولا بأحد من المرسلين قبل محمد صلى الله عليه وسلم ولا بملة من الملل ولا بدين من الأديان السالفة بل يأخذون من كلام الله ورسوله المعروف عند علماء المسلمين ويتأولونه على أمور يفترونها ويدعون أنها علم الباطن من جنس ما ذكره السائل …)

“Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Kelompok yang dinamakan Nushairiyah tersebut dan seluruh kelompok Qaramithah Bathiniyah (salah satu sekte Syi’ah yang ekstrim—edt) yang lain adalah orang-orang yang kekafirannya lebih parah dari kekafiran kaum Yahudi dan Nashrani, bahkan kekafirannya lebih berat dari kekafiran kebanyakan kaum musyrik. Bahaya mereka (kelompok Nushairiyah dan Qaramithah Bathiniyah—edt) terhadap kaum muslimin lebih besar dari bahaya kaum kafir yang memerangi Islam, karena mereka menampakkan dirinya sebagai orang-orang Syi’ah yang loyal kepada ahlul bait di hadapan kaum muslimin yang bodoh. Padahal sejatinya mereka tidak beriman kepada Allah, rasul-Nya, kitab-Nya, perintah, larangan, pahala, siksa, surga, neraka, maupun seorang rasul pun sebelum Muhammad SAW. Mereka juga tidak mengimani adanya ajaran rasul dan agama samawi terdahulu apapun. Mereka hanya mengambil sebagian firman Allah dan sabda rasul-Nya yang dikenal di kalangan ulama Islam, lantas mereka melakukan ta’wil sesat yang mereka ada-adakan dan mereka klaim sebagai ilmu bathin semisal yang telah disebutkan oleh penanya di atas…”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melanjutkan jawabnnya sampai pada perkataan beliau: ”Sudah diketahui bersama bahwa pesisir pantai negeri-negeri Syam jatuh ke tangan pasukan Nasrani (tentara Salib—edt) dari arah mereka (kelompok Nushairiyah). Mereka selalu membantu setiap musuh Islam. Menurut mereka, di antara musibah terbesar yang menimpa mereka adalah kemenangan kaum muslimin atas pasukan Tartar…” Fatwa beliau cukup panjang, dan kami cukupkan dengan kutipan pendek di atas.

Adapun mengucapkan selamat atas hari-hari bahagia mereka, mengucapkan bela sungkawa atas musibah yang menimpa mereka, dan menshalatkan jenazah mereka adalah perbuatan yang diharamkan dan tidak diperbolehkan, karena menyelisihi kaedah wala’ dan bara’ yang merupakan salah stau ajaran pokok yang urgen dalam pokok-pokok ajaran tauhid.

Demikian jawaban ringkas yang bisa saya sampaikan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para shahabatnya.

Hamud bin ‘Uqla Asy-Syu’aibi
25 Rabi’ul Awwal 1421 H

Fatwa tentang Partai Baath

Soal:
Fadhilah syaikh…kami mengharapkan Anda berkenan menuliskan fatwa tentang partai sosialis Ba’ath Arab dan hukum bergabung dengan partai tersebut. Semoga Allah SWT membalas Anda dengan kebaikan

Jawab:

Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.

Partai sosialis Baath Arab adalah sebuah partai nasionalis rasis sekuleris permisif, tegak di atas dasar memisahkan agama dari negara, politik, dan aspek kehidupan. Partai ini dengan seluruh dasar-dasarnya, tujuan-tujuannya, sarana-sarananya, pembentukannya, dan seluruh bagian-bagiannya bertolak belakang dan menyelisihi syariat dan ajaran Islam. Partai ini hanya mampu menyeret umat Islam kepada kehinaan, keterbelakangan, kemiskinan, dan kekalahan demi kekalahan.

Lebih dari itu, dari dahulu sampai sekarang partai ini menjadi topeng bagi kekuasaan kelompok Nushairiyah yang kafir, keluar dari Islam, dan berkhianat di Suriah. Melalui partai kafir ini, kelompok Nushairiyah yang berkuasa melampiaskan seluruh kedengkian kelompoknya yang keji terhadap Islam dan kaum muslimin. Sejarah kontemporer kelompok Nushairiyah menjadi saksi atas hal ini.

Dengan demikian, ia adalah partai kafir dari aspek pembentukan, sarana, tujuan, dan organisasinya. Seorang yang memahami hakekat Islam dan hakekat partai ini serta pengikutnya tentu tidak akan ragu sedikit pun atas hukum ini. Maka tidak boleh berkoalisi, bergabung, atau mengkampanyekan partai ini.

Barangsiapa melakukan hal itu atas dasar sukarela tanpa ada paksaan yang dibenarkan oleh syariat, hanya karena mencari mata pencaharian, jabatan, atau alasan semisal meskipun ia tidak meyakini dasar-dasar dan tujuan-tujuan partai ini, maka ia telah kafir keluar dari agama Islam (murtad) sampai ia bertaubat dan berlepas diri secara lahir dan batin dari partai ini dan para pengikutnya. Ia dihukumi kafir murtad, sekalipun lisannya mengakui dirinya adalah seorang muslim, namun perbuatannya mendustakan pengakuan lisannya tersebut. Allah SWT berfirman:

{ مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْأِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ }

Artinya:
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. An-Nahl (16): 106)

Barangsiapa menampakkan kekafiran dengan ucapan atau perbuatan tanpa ada paksaan atau penghalang lainnya yang diakui oleh syariat…maka ia telah kafir, membuka hatinya lebar-lebar untuk menerima kekafiran, terkena murka Allah dan siksaan yang pedih di akhirat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan seluruh shahabatnya.

Syaikh Abu Bashir Abdul Mun’im Musthafa Hulaimah Ath-Thathusyi



Di banding Mesir dan Tunisia, gelombang demonstrasi rakyat Suriah menentang rezim Suriah menemui tembok penghalang yang lebih tebal, berat, dan tinggi. Ribuan muslim sunni telah gugur diterjang timah panas aparat keamanan Suriah selama masa demonstrasi yang telah berlangsung lebih dari empat bulan ini. Puluhan ribu muslim sunni lainnya mengalami luka-luka berat, dan jumlah yang lebih besar lagi terpaksa mengungsi ke daerah-daerah perbatasan Turki.

Dikirim pada 24 Agustus 2011 di Ketahuilah!!!


Saif Al Battar

Sabtu, 13 Agustus 2011 14:01:16

Hits: 1975

Pengantar

Seorang pendeta Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ berpura-pura masuk Islam untuk menghancurkan Islam dari daIam. Ia menampakkan dirinya sebagai seorang yang shalih dan hidup zuhud. Di tengah masyarakat Mesir, Kufah, dan Bashrah, ia menyebarkan pendapat sesat bahwa Ali bin Abi Thalib RA adalah orang yang diberi wasiat oleh Rasulullah SAW untuk menjadi khalifah sepeninggalnya. Ia juga memprovokasi masyarakat dengan menyebut Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah para penjahat yang bersekongkol merebut jabatan kekhalifahan dari Ali.

Dengan provokasi terus-menerus, banyak orang-orang bodoh di Mesir, Kufah, dan Basrah yang menjadi pengikutnya. Ia menggerakkan mereka untuk mengepung rumah khalifah Utsman di Madinah, sehingga berujung kepada pembunuhan khalifah Utsman oleh mereka. Kekacauan itu disusul dengan pengangkatan Ali sebagai khalifah. Namun gejolak belum padam, sehingga terjadi perang Jamal dan perang Shiffin, yang disusul dengan perundingan (tahkim) pihak Ali dan pihak Mu’awiyah di Daumatul Jandal pada tahun 36 H.

Dampak dari peristiwa itu, barisan Ali terpecah menjadi tiga golongan; mayoritas kaum muslimin yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kelompok sesat Khawarij, dan kelompok Syi’ah. Semula kelompok Syi’ah hanya mengganggap Ali lebih layak menjadi khalifah, dan mereka tidak mengkafirkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Namun dalam perkembangannya, sebagian kelompok Syi’ah bersikap ekstrim dengan mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seluruh shahabat yang mereka tuding ‘bersekongkol mengkudeta’ Ali.

Dalam perkembangannya, kelompok Syi’ah terpecah menjadi 20 sekte; dua sekte Syi’ah Kaisaniyah, tiga sekte Syi’ah Zaidiyah, dan lima belas sekte Syi’ah Imamiyah. Kelompok Syi’ah menjadi induk semang bagi kelompok Nushairiyah adalah Syi’ah Imamiyah.

Syi’ah Imamiyah terpecah menjadi lima belas sekte akibat perbedaan pendapat yang sangat tajam di antara mereka sendiri. Mereka meyakini kekhilafahan adalah hak Ali bin Abi Thalib, lalu ia mewasiatkan kedudukan itu kepada anaknya, Hasan bin Ali. Hasan bin Ali mewasiatkan penggantinya adalah saudaranya, Husain bin Ali. Husain bin Ali lalu mewasiatkannya kepada anaknya, Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali. Ali Zainal Abidin mewasiatkan kepada anaknya, Muhammad Al-Baqir. Muhammad Al-Baqir lalu mewasiatkannya kepada anaknya, Ja’far Ash-Shadiq.

Setelah itu, mereka terpecah menjadi dua sekte karena berselisih tajam tentang keturunannya yang menggantikannya sebagai khalifah:

Satu sekte meyakini penggantinya adalah anaknya, Ismail. Mereka adalah kelompok Syi’ah Ismailiyah. Mereka terpecah lagi dalam banyak kelompok, namun pada saat ini yang eksis adalah tiga kelompok besar:

Ismailiyah Musta’liyah (kelompok Baharah)
Ismailiyah Nizariyah (kelompok Agha Khan)
Sekte Druz
Satu sekte meyakini penggantinya adalah Musa Al-Kazhim. Mereka adalah kelompok Syi’ah Itsna ‘Asyariyah atau juga disebut Syi’ah Ja’fariyah. Di Libanon, mereka disebut Mutawilah. Syi’ah Itsna ‘Asyariyah adalah kelompok terbesar dan terpenting dalam kelompok induk Syi’ah Imamiyah. Mayoritas Syi’ah di Iran, Irak, Pakistan, Lebanon, dan Jazirah Arab (Saudi Arabia, Bahrain, dan lain-lain) beraliran Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Dari aliran ini pula timbul banyak pecahan, yang salah satunya adalah Nushairiyah.

(Dr. Sulaiman Al-Halabi, Thaifah An-Nushairiyah Tarikhuha wa Aqa’iduha, Kuwait: Ad-Dar As-Salafiyah, cet. 2, 1404 H, hal. 21-26)

Syi’ah Ekstrim

Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi sukses memecah belah kaum muslimin menjadi dua golongan:ahlus sunnah wal jama’ah dan Syi’ah. Namun ia tidak berhenti di situ saja. Ia berusaha keras menyesatkan dan mengeluarkan pengikutnya, kelompok Syi’ah (Syi’ah Sabaiyyah), dari agama Islam. Maka ia menampakkan dirinya sebagai orang yang shalih, bertakwa, zuhud, berilmu, dan pembela Ahlul Bait. Ia mengajarkan kepada pengikutnya, bahwa Allah SWT menyatu dalam diri Ali bin Abi Thalib sehingga Ali memiliki unsur ketuhanan dan karenanya harus disembah. Hal ini sama persis dengan ajaran Paulus, pendeta Yahudi yang pura-pura masuk Kristen untuk menghancurkan Kristen dari dalam. Paulus mengajarkan kepada pengikut Kristen bahwa Allah SWT bersatu dengan diri Isa Al-Masih (mereka menyebutnya: Yesus Kristus) sehingga ia memiliki unsur ketuhanan dan harus disembah.

Orang-orang bodoh yang belum lurus keislamannya tertipu oleh ajaran palsu Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi. Syarik Al-Amiri berkata: “Dilaporkan kepada amirul mukminin Ali bin Abi Thalib bahwa di sini (kufah) di depan pintu masjid ada sebuah kaum yang mengakui engkau (Ali bin Abi Thalib) adalah tuhan sesembahan mereka.” Maka Ali memanggil mereka dan menanyai mereka, “Celaka kalian ini, apa yang kalian katakan?” Mereka menjawab, “Engkau adalah Tuhan kami, Pencipta kami, dan Pemberi rizki kami.” Ali menjawab, “Celaka kalian. Aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan sebagaimana kalian makan dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku menaati Allah, maka jika Allah berkeendak niscaya Dia memberiku balasan pahala. Dan jika aku mendurhakai Allah, maka aku khawatir jika Allah mengadzabku. Maka takutlah kalian kepada Allah dan kembalilah kepada kebenaran!” Ali memberi mereka waktu tiga hari untuk bertaubat. Namun mereka telah gelap hati dan memegang teguh kesesatannya. Setelah didakwahi selama tiga hari namun mereka tetap bertahan di atas keyakinan mereka, maka Ali memerintahkan penggaian parit-parit di depan masjid Kufah, lalu ia memerintahkan agar mereka dibakar hidup-hidup karena telah murtad. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 12/309-310 hadits no. 6922)

Semboyan dan ajaran mereka lalu diikuti oleh banyak orang Yahudi dan orang Majusi Persia yang hendak merusak Islam dari dalam. Orang-orang Majusi menaruh dendam kesumat kepada Islam dan kaum muslimin karena kaum muslimin telah meruntuhkan kejayaan Imperium Persia yang berkuasa di muka bumi selama 12 abad lamanya. Kaum Yahudi menaruh dendam karena kaum muslimin telah mengalahkan Yahudi Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, Bani Quraizhah, Yahudi Khaibar, dan mengusir kaum Yahudi dari Jazirah Arab.

Cara terbaik bagi mereka untuk memuluskan program jahatnya adalah bergabung dengan kelompok Syi’ah dengan kedok membela Ahlul Bait. Mereka memasukkan akidah-akidah Yahudi, Majusi, Budha, dan musyrikin lainnya ke dalam kelompok mereka. Akibatnya, akidah mereka sangat berbeda dengan akidah kelompok Ahlus Sunnah dan Syi’ah moderat. Mereka lantas dikenal sebagai Syi’ah Ekstrim.

Imam Asy-Syahrastani menulis, “Al-Ghulat (kaum ekstrim) adalah nama untuk orang-orang yang bersikap ekstrim terhadap para imam mereka, sehingga mereka mengeluarkan para imam mereka dari batasan kemanusiaan dan mengangkat mereka kepada derajat ketuhanan.Terkadang mereka menyerupakan salah seorang imam dengan Tuhan Yang berhak disembah. Terkadang mereka juga menyerupakan Tuhan Yang berhak disembah dengan makhluk. Mereka berada di antara sikap terlalu berlebihan dan terlalu meremehkan. Syubhat-syubhat mereka timbul dari paham-paham hululiyyah (paham yang menyatakan Allah menitis pada semua makhluk-Nya; semua makhluk di alam semesta adalah wujud dari Allah), paham reinkarnasi, agama Yahudi dan Nashrani. Karena kaum Yahudi menyerupakan Al-Khaliq (Sang Pencipta) dengan makhluk, sedangkan Nashrani menyerupakan makhluk dengan Al-Khaliq. Syubhat-syubhat tersebut merambah pikiran orang-orang Syi’ah ekstrim, sehingga mereka memberlakukan sifat-sifat Tuhan untuk diri para imam mereka.” (Al-Milal wan Nihal (dicetak sebagai catatan kaki Al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal), 1/10).

Sejarawan dan sosiolog muslim, imam Ibnu Khaldun menulis: “Di antara kelompok Syi’ah terdapat beberapa kelompok yang disebut kelompok ekstrim. Mereka melampaui batas normal akal dan iman dengan meyakini ketuhanan para imam mereka. Baik dengan meyakini bahwa para imam mereka adalah manusia yang memiliki sifat-sifat Tuhan, maupun meyakini bahwa Tuhan bersemayam dalam jasad manusiawi mereka. Itulah pendapat hululiyah yang bersesuaian dengan keyakinan kaum Nashrani bahwa Tuhan bersemayam dalam jasad Isa bin Maryam.” (Muqaddimah Ibnu Khaldun, hlm. 832)

Seorang ulama besar kelompok Syi’ah Itsna Asyariyah, Asy-Syaikh Al-Mufid, menulis: “Kelompok ekstrim yang berpura-pura menampakkan keislaman adalah orang-orang yang menisbahkan Ali dan para imam anak keturunannya kepada derajat ketuhanan dan kenabian. Mereka menyematkan sifat-sifat keutamaan dalam urusan agama dan dunia kepada Ali dan para imam anak keturunannya sampai melampaui batas dan keluar dari tujuan sebenarnya. Maka mereka adalah kaum yang sesat dan kafir. Amirul Mukminin Ali ‘alaihis salam telah memvonis mereka kafir dan keluar dari Islam.” (Thaifah An-Nushairiyah, hlm. 30)

Bersambung….

Dikirim pada 24 Agustus 2011 di Ketahuilah!!!

Hidayatullah.com-- Ketika aku kembali ke Srebrenica, aku mengajukan dana bantuan untuk merekonstruksi rumahku karena semua pipa air rusak. Rumah yang telah dibangun oleh suamiku dan di mana aku pernah tinggal bersamanya dan anak-anak adalah satu-satunya peninggalan berharga yang aku miliki. Akan tetapi selam tiga tahun pengajuan danaku selalu ditolak.

Aku tinggal di rumah ketika perang berlangsung. Suami dan anakku yang tertua memintaku untuk pergi dengan anakku yang lebih muda dan pergi ke Sarajevo. Akan tetapi aku tidak ingin meninggalkan mereka sendirian. Terakhir kali aku melihat anak-anakku, yang lahir pada tahun 1973 dan 1979, berada di sini, di halaman depan di bawah pohon ini.

Mengapa Serbia membunuh mereka, anak-anakku yang berumur 22 dan 16 tahun saat itu. Bagaimana bisa bahwa orang-orang yang melakukan ini masih tinggal di sini di Srebrenica? Bagaimana mereka melihat kita disisi lain mereka mengetahui apa yang mereka telah lakukan?

Anakku yang bungsu begitu ceria dan menyukai mata pelajaran matematika. Dan ia sangat pandai di pelajaran ini. Ketika gurunya bertemuku dia sering menyapaku, "Ke sini ibu matematika", karena kepandaian anakku.

Pemerintah belum menemukan tulang anakku. Mereka belum menemukan tulang suamiku, anak-anakku dan iparku. Aku pergi ke pemakaman yang berlangsung pada tanggal 11 Juli setiap tahun di Potocari Memorial Genosida, akan tetapi kabar dan nasib mereka belum aku temukan. Aku berharap suatu hari nanti aku akan dapat untuk mengubur anak-anaku.

Ketika aku kembali pada tahun 2000 setelah 5 tahun dalam pengungsian. Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku didampingi polisi yang memberikan perlindungan.

Akan tetapi sebelum kami tiba di rumahku mereka mengatakan kepadaku bahwa mereka tidak akan pergi denganku dan bahwa aku melakukan ini dengan resiko sendiri. Sebuah keluarga Serbia tinggal di rumahku dan ketika aku mengetuk pintu rumahku mereka tidak membukanya. Akan tetapi aku tahu mereka ada di dalam rumahku, dan aku tidak takut.

Aku hanya ingin masuk ke dalam dan melihat apakah ada foto-foto keluargaku yang masih tersisa. Foto-foto itu yang aku ingin ambil. Ketika seseorang akhirnya membuka pintu, ia mengusirku dan mengancam akan membunuhku apabila aku kembali datang. Tapi aku tidak takut. Dalam pikiranku - terbayang - aku melihat anak-anakku di sana berdiri di sebelah pohon di mana aku pernah melihatnya.

Akhirnya ada orang yang membantuku untuk mendapatkan kembali rumah yang dulu pernah aku tinggali bersama keluargaku.

Ketika aku melarikan diri dari Potocari ke Tuzla, tidak ada yang bertanya di mana anak-anakku. Tidak ada yang tersisa di diriku, aku harus minum air dari kaleng ikan bekas. Suatu hari seorang perempuan memberiku cangkir (Safia masih memiliki cangkir dan menunjukkan kepada kami). Kebaikan itu masih aku ingat sampai sekarang.

Anakku tertua sudah menikah ketika perang terjadi. Dan istrinya hamil 7 bulan. Ketika tentara Serbia datang, aku meminta suami dan anakku untuk melarikan diri.

Mereka berlari di seberang jalan dan ke hutan naik gunung. Aku dan menantu, istri anakku berlari ke arah lain. Ibu mertua tidak mau ikut denganku. Dia tetap tinggal di rumah. Ketika kami tiba di Potocari (di mana PBB menjaga perdamaian dan pasukan Belanda ditempatkan), kami tinggal di pabrik selama dua malam.

Kemudian Belanda memaksa kami untuk meninggalkan pabrik tempat kami mencari perlindungan setelah malam kedua dan kami harus tidur di luar. Aku tidak bisa tidur semalaman saat aku menunggu untuk berangkat dengan truk PBB.

Aku pergi bersama menantuku naik truk keesokan paginya dan kami tiba ke tempat yang bernama Trieste. Mereka mengatakan kepada kami untuk turun dan berjalan dan mereka memaksa kami untuk memberi mereka semua yang kita miliki dan mengancam kita jika tidak memberikannya dengan memotong payudara kami. Aku sangat takut dan khawatir keselamtan menantuku, aku mencoba menyembunyikannya.

Para prajurit mengambil gadis-gadis muda dari truk. Aku merasa seseorang berada di belakangku dan tentara mengambil putri pergi. Aku mulai menjerit dan berteriak sangat keras sehingga tentara lain datang seorang bertanya kepadaku apa masalahnya. Aku mengatakan bahwa mereka telah mengambil menantuku yang sedang hamil 7 bulan. Sementara aku menunggu dia untuk kembali, aku melihat dua anak kecil menangis untuk ibu mereka.

Prajurit membawanya ke dalam hutan untuk memperkosanya. Itu adalah di mana mereka mengambil semua wanita untuk memperkosa. Pada akhirnya menantuku dikembalikan kepadaku, tapi kami tidak berbicara sampai kami tiba di Sarajevo.

Kami selamat, tapi aku bertanya pada diri sendiri setiap hari: Mengapa? Mengapa ini terjadi?

Aku berharap ini tidak akan pernah terjadi lagi kepada siapa pun.*/Muhammad Yusuf Efendi

Baca juga kekejaman Sang Penjagal Muslim Bosnia

Lihat foto-foto kekejamannya di FB Hidayatullah online

Dikirim pada 24 Agustus 2011 di Ketahuilah!!!
Awal « 1 2 » Akhir
Profile

“ Haji/Hajjah abdillahassunni ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 966.820 kali


connect with ABATASA