0


SEJUMLAH tujuh belas doktrin Syi’ah yang selalu mereka sembunyikan dari kaum muslimin sebagai bagian dari pengamalan doktrin taqiyah (menyembunyikan Syi’ahnya). Ketujuh belas doktrin ini terdapat dalam kitab suci Syi’ah:

Dunia dengan seluruh isinya adalah milik para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki (Ushulul Kaafi, hal.259, Al-Kulaini, cet. India).

Jelas Doktrin semacam ini bertentangan dengan firman Allah SWT QS: Al-A’raf 7: 128, “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia kehendaki”. Kepercayaan Syi’ah diatas menunjukkan penyetaraan kekuasaan para imam Syi’ah dengan Allah dan doktrin ini merupakan aqidah syirik.

Ali bin Abi Thalib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang bathin sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hadid, 57: 3 (Rijalul Kashi hal. 138).

Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah yang berdusta atas nama Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin semacam ini Syi’ah menempatkan Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum muslimin dan kesucian aqidahnya.

Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah (Ushulul Kaafi, hal. 83).

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang ghaib (Ushulul Kaafi, hal. 84).

Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushulul Kaafi, hal. 278).

Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam (Ushulul Kaafi, hal. 158).

Para imam Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushulul Kaafi, hal. 193).

Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).

Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifat bada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).

Para imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para imam Syi’ah bersifat Ma’sum (Bersih dari kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah (Argumentasi Kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushulul Kaafi, hal. 165).

Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Saw (Ibid).

Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin Ali (Ushulul Kaafi, hal. 109)

Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab, hal. 180).

Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushulul Kaafi, hal. 671).

Menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi’ah (Haqqul Yaqin, hal. 519 oleh Muhammad Baqir Al-Majlisi).

Menghalalkan nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).

Menghalalkan saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Kata mereka, imam Ja’far berkata kepada temannya: “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku.” (Al-Istibshar III, hal. 136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan At-Thusi).

Rasulullah dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua orang ini akan disalib (Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad Baqir al-Majlisi).

Ketujuhbelas doktrin Syi’ah di atas, apakah bisa dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah Saw. dan dipegang teguh oleh para Sahabat serta kaum Muslimin yang hidup sejak zaman Tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, barangsiapa yang tidak MENGKAFIRKAN aqidah Syi’ah ini, maka dia termasuk Kafir.

Semua kitab tersebut diatas adalah kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab hadits Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, upaya-upaya Syi’ah untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip, adalah dusta dan harus ditolak tegas !!!.

Sumber: Risalah Mujahidin, edisi 9, th 1 Jumadil Ula 1428 / Juni 2007


Read more: http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17123-17-alasan-ulama-islam-mengkafirkan-kaum-syiah.html#ixzz1iDPDVifQ

Dikirim pada 01 Januari 2012 di Ketahuilah!!!


JAKARTA (Arrahmah.com) – Organisasi yang memayungi sekte sesat di Indonesia Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), melakukan taqiyah dengan membantah bahwa jamaahnya diperbolehkan untuk tidak salat Jumat dan nikah mut’ah (kawin kontrak).

“Kami di IJABI nikah mut’ah diharamkan,” tega Ketua dewan Syura IJABI Jalaludin Rakhmat yang merupakan gembong syiah di Indonesia saat jumpa pers di Kantor Pusat IJABI di Jakarta Selatan, Sabtu (31/12).

Lebih dari, itu Jalal menegaskan, banyak pengurus IJABI yang menjadi khatib salat Jumat di masjid-masjid besar. Sehingga fakta tersebut dengan jelas membatalkan anggapan bahwa Syiah dibolehkan tidak melaksanakan salat Jumat.

Soal nikah mut’ah, Jalal menilai pada hakikatnya semua orang melakukan nikah mut’ah namun dalam konteks yang berbeda. “Kita semuanya nikah mut’ah, segera setelah akad nikah, taqliq talak itu nikah mut’ah,” jelasnya.

Karena itu, Jalal meminta masyarakat yang belum memahami soal Syiah untuk berdialog dan tidak menggunakan cara kekerasan untuk memaksakan pendapat.

Di negeri Iran hingga kini tidak pernah dilaksanakan shalat Jum’at dimasjid-masjid kaum syi’ah. Karena mereka beranggapan sholat jum’at harus dilakukan bersama Imam Mahdi mereka yang belum muncul, sholat jum’at pernah dilaksanakan ketika Khomeini dianggap sebagai wilayatul faqih yang mewakilkan urusan umat syi’ah dimasa keghaiban Imam Mahdi versi Syi’ah.

Entah, apa yang membuat Jalal tidak menjalankan ajarannya tersebut. Bisa jadi ini adalah taqiyah (kebohongan dalam ajaran Syi’ah) yang merupakan aqidah syi’ah yang dilakukan Jalal untuk menyelamatkan diri. Dalam sebuah riwayat versi syiah mengatas namakan Ahlul bait Ja’far As-Shadiq mengatakan:

“Taqiyah adalah 9 dari 10 bagian agama.” Ja’far juga mengatakan: “Tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah.” Begitu juga riwayat dari Abu Ja’far, yang mengatakan: “Taqiyyah adalah agamaku dan agama kakek-kakekku.” (Riwayat-riwayat ini tercantum dalam kitab Al-Kafi, bab. Taqiyyah, jilid. 2, hal. 217).

Ibnu Babawaih Al-Qummi, salah seorang ulama besar Syi’ah, mengatakan: “kami meyakini bahwa taqiyah adalah wajib, siapa yang meninggalkannya sama seperti meninggalkan shalat.” (Al-I’tiqadat, hal. 114).

Ini nampaknya yang sedang dimainkan Jalaludin rahmat untuk membela sektenya, Ia bertaqiyyah(berbohong) bahwa mereka tidak pula melaksanakan nikah mut’ah. Padahal dalam pernyataannya secara implisit, Ia meminta masyarakat memahami bahwa mut’ah itu dilakukan bukan hanya oleh syi’ah. Perhatikan ucapannya ini Soal nikah mut’ah, “Kita semuanya nikah mut’ah, segera setelah akad nikah, taqliq talak itu nikah mut’ah,” jelasnya.

Itulah kedustaan yang sering dilakukan sekte sesat syi’ah, mereka menolak dikatakan mewajibkan mut’ah, tetapi tak begitu lama lisannya sendiri yang menegaskan pembolehan nikah tersebut.

Nikah Mut’ah tidak mungkin ditinggalkan pengikut syi’ah, karena menurut Syi’ah nikah mut’ah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah yang mampu mengangkat derajat mereka.

Syi’ah meyakini mut’ah sebagai salah satu dasar pokok (ushul) agama, dan orang yang mengingkarinya dianggap sebagai orang yang ingkar terhadap agama.(Sumber: Kitab Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, 3/366 dan Tafsir Minhaj Ash-Shadiqin, 2/495).

Syi’ah juga menganggap mut’ah sebagai salah satu keutamaan agama dan dapat meredam murka Tuhan.(Sumber: Tafsir Minhaj Ash-Shadiqin, karya Al-Kasyani, 2/493).

Menurut Syi’ah seorang wanita yang dimut’ah akan diampuni dosanya.(Sumber: Kitab Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, 3/366).

Syi’ah menganggap mut’ah sebagai salah satu sebab terbesar dan utama seseorang masuk ke dalam surga, bahkan dapat mengangkat derajat mereka hingga mereka mampu menyamai kedudukan para nabi di surga.(Sumber: Kitab Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, 3/366).

Wallahu ‘alam bishshowab.

(Bilal/arrahmah)


Read more: http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17124-ijabi-berdusta-katakan-syiah-haramkan-nikah-mutah.html#ixzz1iCvAiH4S

Dikirim pada 01 Januari 2012 di Ketahuilah!!!


JAKARTA (Arrahmah.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) meminta masyarakat mewaspadai aliran Syiah agar tak berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Menurut Ketua MUI Jawa Timur KH Abdussomad Bukhori, kelompok Syiah boleh diakui eksistensinya tapi jangan diberikan fasilitas untuk berkembang.

“Aliran Syiah jangan berkembang dan merembet ke tempat lain. Indonesia itu isinya orang Sunni walaupun NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad semuanya sunni. Syiah itu kelompok kecil harus mengerti-lah,” kata Abdussomad di Kompleks Mapolda Jatim, Surabaya, Jumat (30/12) seperti dilansir Okezone.

Kendati demikian, dia mengaku tidak sepakat dengan aksi kekerasan yang terjadi di Pesantren Syiah, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben Kabupaten Sampang, kemarin. Abdussomad juga berharap tidak ada pihak-pihak yang memancing di air keruh terkait insiden tersebut.

“Mengembangkan Syiah di Madura tentunya sangat berat. Kita kekerasan tidak setuju tapi jangan ada yang mancing-mancing agar terjadi kekerasan itu,” katanya.

MUI sendiri, tegasnya, sudah melakukan beberapa langkah-langkah terkait kasus di Sampang itu. Meski belum sampai pada tahap fatwa haram terkait keberadaan Syiah di Indonesia.

Sebab, jika kekuatan Syiah berkembang setara dengan kekuatan Sunni di Indonesia, dia khawatir sering terlibat kerusuhan mengingat kedua aliran ini memiliki kekuatan yang sepadan, mirip dengan kondisi di Irak dan Iran.

“Saya kira Jawa Timur ini adalah kondisi yang sangat pas. Akhirnya kondisinya menjadi kondusif,” katanya.

Tambah KH Abdussomad Bukhori , jika sebuah negara terdapat dua aliran ini dengan kekuatan yang sama,maka negara tersebut tidak akan tentram.

“Sunni dan Syiah memang tidak bisa ketemu. Rukun Imannya saja berbeda,” jelas Abdussomad.

Dia menjelaskan, ada beberapa perbedaan yang menonjol di Syiah dengan umat Islam pada umumnya. Azan saja berbeda di Syiah, lantunan Azan diubah ada tambahan dua bait.

“Di Syiah salat saja berbeda, yakni salat Zuhur dan Asar digabung jadi satu. Kemudian salat Maghrib dan Isya. Perbedaan itulah yang tidak bisa ketemu dengan umat Islam pada umumnya,” jelasnya.

Dia menambahkan nikah mut’ah (nikah kontrak) diperbolehkan di Syiah.

Abdussomad menjelaskan Syiah terbagi menjadi beberapa sekte. Ada sekte beraliran ekstrem dan moderat. “Sekte yang lunak ini ajarannya tetap bertentangan dengan umumnya umat Islam,” tukasnya.

Apa yang membuat kekhawatiran ulama terhadap syiah jika hidup berdampingan dengan sunni? Hal tersebut dikarenakan syi’ah mempunyai pandangan yang burk terhadap ahlu sunnah atau sunni. Pandangan buruk tersebut terkait keyakinan mereka bahwasanya kaum muslimin atau ahlus sunnah wal jama’ah adalah kafir dan harus diperangi. Keyakinan tersebut dapat kita lihat pada kitab-kitab pegangan kaum syiah.

Al-Majlisi, ulama Syi’ah kenamaan, yang menyusun kitab Biharul Anwar –ensiklopedi hadits Syi’ah yang terdiri dari 110 jilid–. Pada jilid ke 30, hal. 399, dia menyatakan:

“Saya katakan: Dalil yang menunjukkan bahwa Abu Bakar, Umar dan orang yang sejalan dengan mereka adalah kafir, juga menunjukkan pahala melaknat dan memusuhi mereka, yang menunjukkan bid’ah mereka, terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau berjilid-jilid buku, apa yang telah kami nukilkan di atas sudah cukup bagi orang yang diberi petunjuk Allah ke jalan yang lurus.”

Wallahu’alam bishshowab.

(Bilal/arrahmah)




Read more: http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17121-mui-jatim-waspadai-perkembangan-syiah.html#ixzz1iCuVPvYR

Dikirim pada 01 Januari 2012 di Ketahuilah!!!


Dahulukan Akhlak di atas Fikih! itu kata Kang Jalal dalam bukunya, tetapi apakah Kang Jalal sudah melakukannya sebelum mengajak orang lain?
Beberapa waktu yang lalu masyarakat berpeluang menyaksikan dialog Nasional Sunni Syiah di layar TV. Menurut informasi yang beredar, penganut sunni yang akan berdialog adalah Fauzan Anshari, sementara penganut syiah yang akan memaparkan dalil-dalil syari kebenaran mazhab syiah adalah Jalaluddin Rahmat. Semua menunggu hari dialog dengan penuh penantian.

Lagi-lagi dari informasi yang beredar, Fauzan berniat mengajak kang Jalal untuk bermubahalah, memohon azab Allah yang disegerakan untuk mengetahui mana yang benar, antara mazhab Fauzan dan mazhab kang Jalal. Tapi ternyata masyarakat belum dapat menyaksikan langsung bukti kebenaran masing-masing mazhab, karena jika terjadi mubahalah, selang beberapa waktu akan terjadi sebuah peristiwa buruk, atau siksa, atau kematian dengan kecelakaan pada pihak yang mazhabnya salah, akhirnya masyarakat akan mengerti dengan jelas. Seperti dikutip oleh majalah Sabili, karena merasa ditipu dan dipermainkan, Fauzan membatalkan keikutsertaannya dalam dialog, lalu panitia menghubungi Nabhan Husein yang akhirnya menggantikan Fauzan.

Pada awal sesi Kang Jalal (biasanya Jalaludin dipanggil dengan panggilan ini) membacakan riwayat dari kitab tafsir Qurtubi tentang sebab turunnya surat Al Maarij.

Sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan syiah, ketika dihadapkan dengan nukilan dari literatur induk syiah yang menerangkan hakekat mazhabnya, maka mereka segera menasehati lawan dialognya agar tidak membaca nukilan sepotong-sepotong, hendaknya membaca kitab seluruhnya supaya faham maksud perkataan itu dengan jelas, serta jangan percaya pada antek musuh Islam yang menebar fitnah untuk memecah belah ummat, mari kita lupakan perbedaan sepele yang ada antara sunni dan syiah untuk menghadapi musuh utama kita, yaitu kaum yahudi. Padahal nukilan tadi jelas jelas dari kitab induk yang menjadi pedoman syiah. Akhirnya sunni yang kebetulan polos percaya saja dengan jawaban kawan syiah tadi. Padahal belum tentu kawan syiah tadi sudah pernah melihat langsung nukilan itu di kitab mereka. Karena kitab-kitab literatur induk syiah yang memuat salah satu "pusaka" yang harus diikuti oleh ummat Islam, yaitu ajaran ahlulbait, seperti kitab al kafi, biharul anwar, al istibshar dan tahzibul ahkam tidak bisa ditemukan dengan mudah, tidak seperti kitab-kitab hadits ahlussunah yang mudah didapat. Jika memang kita harus mengikuti ahlulbait, mengapa kitab-kitab yang memuat riwayat-riwayat ahlubait tidak diterjemahkan supaya diketahui kaum muslimin secara luas?

Kang Jalal menukil dari tafsir Qurtubi yang merupakan salah satu literatur induk tafsir ahlussunnah wal jamaah, bukannya dari kitab syiah. Pemirsa pasti akan menganggap bahwa nukilan itu adalah pendapat ahlussunah, karena berasal dari salah satu kitab literatur tafsir ahlussunnah.

Menurut riwayat yang dibaca oleh kang Jalal , bahwa sebab turunnya surat Al Maarij yang ayat pertamanya berbunyi : saala saailun bi azaabin waaqi, artinya seorang telah meminta azab yang pasti akan menimpanya, orang itu adalah Numan bin Harits Al Fihri, ketika mendengar bahwa Nabi bersabda pada Ali bahwa " barang siapa aku(Nabi) menjadi walinya, maka Ali harus menjadi walinya" langsung mengndarai ontanya. Ketika sampai di Abtah (sebuah tempat di kota mekah), dia turun dan menambatkan ontanya, lalu menghadap Nabi dan berkata : wahai Muhammad, kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan kamu adalah Rasulullah maka kami terima perintah itu, dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah sholat lima waktu dan ini juga telah kami terima. Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berzakat dan kami pun tidak menolaknya, juga dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berpuasa pada bulan ramadhan setiap tahun, kami terima itu. Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berhaji dan kami terima, tapi kamu masih kurang dengan semua ini lalu kamu lebihkan anak pamanmu di atas kami? Apakah hal ini dari Allah atau dari dirimu sendiri? Lalu Nabi menjawab : demi Allah yang tiada tuhan selain dia, perintah ini tidak datang kecuali dari Allah. Lalu Harits berpaling sambil mengucapkan doa: "ya Allah jika memang ucapan Muhammad adalah benar, turunkanlah hujan batu dari langit, atau datangkanlah siksa yang pedih kepadaku". Demi Allah, dia tidak sampe ke ontanya sampai dia dilempar oleh Allah dengan batu mengenai kepala dan menembus duburnya dan dia pun mati. Lalu turunlah ayat pertama surat Al Maarij.

Dalam riwayat ini terdapat beberapa point penting yang akan ditangkap oleh permirsa yang menyaksikan siaran dialog:
•Yang dimaksud dengan orang kafir yang meminta azab adalah mereka yang kafir dengan pengangkatan Ali.
•Seolah pengangkatan Ali adalah resmi dari Allah, yang mana menolak pengangkatan Ali sebagai khalifah dihukumi kafir. Karena dengan riwayat ini, orang kafir yang dimaksud adalah mereka yang menolak pengangkatan Ali.
•Percaya pada pengangkatan Ali adalah termasuk pembeda antara mukmin dan kafir, berarti termasuk pokok agama yang penting.
•Apakah ahlussunnah yang menolak pengangkatan Ali adalah kafir? Jika kita kembali pada riwayat di atas maka jawabnya "ya".
•Menurut riwayat ini surat Al Maarij adalah madaniyah, yaitu turun setelah hijrah, karena sabda Nabi pada Ali tersebut diucapkan setelah haji wada.
•Riwayat ini adalah dari sumber ahlussunnah, jadi dianggap pendapat ahlussunnah. Seolah Qurtubi dan Ahlussunnah berpendapat seperti itu.
•Pendapat ahlussunnah yang tidak sesuai dengan syiah dalam masalah pengangkatan Ali sebagai khalifah seolah menyelisihi ajaran ahlussunnah sendiri.

Setelah dilihat kembali dalam tafsir Qurtubi, ternyata kang Jalal sengaja membaca kutipan yang memperkuat pendapatnya dan tidak membaca keterangan dari tafsir Qurtubi sebelum dan sesudah riwayat yang dibaca itu, alias dia tidak menerapkan nasehat yang biasanya diucapkan oleh seorang syiah pada setiap sunni yang ingin menghujat syiah dengan nukilan dari literatur syiah sendiri. Yaitu memotong nukilan yang sesuai dengan tujuan dan kepentingannya dan menyembunyikan nukilan yang tidak sesuai dengan kepentingan.

Pada setiap awal tafsir surat, biasanya Qurtubi menjelaskan status surat, apakah surat itu makiyah atau madaniyah. Di awal tafsir surat maarij, imam Qurtubi menerangkan bahwa surat Al Maarij adalah makkiyyah, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Suurotul maaarij, makkiyyatun bittifaq. Saya kira kang jalal yang bisa membaca riwayat di tafsir Qurtubi dengan baik dan menterjemahkan dengan bahasa yang "menggerakkan" pasti memahami arti perkataan Qurtubi mengenai waktu turunnya surat ini. Arti kalimat bittifaq adalah dengan kesepakatan seluruh mufassirin. Memang benar, seluruh mufassirin ahlussunnah sepakat bahwa surat Al Maarij turun di Makkah, sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Atau jika ada yang tidak setuju dengan statement bahwa seluruh mufassirin ahlussunnah berpendapat demikian, paling tidak Qurtubi sendiri berpendapat demikian. Tapi merupakan metode Qurtubi dalam penulisan tafsir, beliau menyebutkan perbedaan pendapat dalam waktu turun sebuah surat jika ada perbedaan dalam hal itu. Bisa dilihat dalam tafsir surat Shaff di mana ada perbedaan mengenai waktu turunnya. Madaniyyatun fi qaulil jami, fii maa dzakarohul maawardi. Wa qiila innaha makkiyyatun, dzakarohu Annahhas an ibni Abbas. Sementara dalam surat Taghabun Qurtubi membeberkan perbedaan pendapat yang ada mengenai masa turunnya surat ini. Madaniyyatun fi qaulil aktsarin. Wa qala adhahhaku makkiyyatun wa qala alkalbiyyu hiya makkiyyatu wa madaniyyatun.. wa an ibni Abbas anna surata taghabun nazalat bimakkah, illa ayaatun min akhiriha nazalat bil madinah. Ini jika memang ada perbedaan pendapat mengenai masa turunnya sebuah surat.

Jika memang kesepakatan ulama adalah surat Al Maarij turun di mekkah, lalu mengapa Qurtubi sendiri menukil riwayat yang dibacakan oleh kang Jalal? Qurtubi menukilkan riwayat itu untuk sekedar pengetahuan pembaca bahwa ada riwayat yang mengatakan demikian, tapi riwayat ini tidak digubris oleh Qurtubi karena lemah sehingga tidak mempengaruhi kesepakatan ulama yang menerangkan bahwa surat Al Maarij turun di Makkah.

Dari awal tafsir surat ini amatlah jelas lemahnya pendapat kang Jalal, yang sengaja melewatkan kalimat ini karena jika dibaca akan mementahkan apa yang ingin disampaikan pada pemirsa..
Kita tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa pelaku hal ini adalah kang Jalal, salah satu "cendikiawan" muslim indonesia yang susah dicari tandingannya karena memiliki skill mengungkapkan pikiran dengan bahasa yang enak, menggerakkan dan ditambah dengan reasoning yang kuat. Akhirnya orang pun "tergerakkan" ketika membaca tulisannya dan mendengar ceramahnya.

Lalu siapa yang dimaksud dalam surat ini? Siapa yang menantang Allah untuk mendatangkan siksanya? Qurtubi telah menjelaskannya tapi sengaja tidak dibaca oleh kang Jalal. orang itu adalah Nadhr bin Harits, yang mengatakan : Ya Allah jika memang hal ini(ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad)adalah benar maka turunkanlah hujan batu dari langit atau siksalah kami dengan siksa yang pedih". Perkataan ini dikisahkan Allah pada kita di surat Al Anfal ayat 32. Nadhr bin Harits mati dibunuh setelah perang badar. Imam Bukhari menerangkan bahwa yang mengatakan adalah Abu Jahal. Dalam sohih Muslim juga dicantumkan riwayat demikian. Ini semakin memperkuat pendapat Qurtubi, bahwa surat Al Maarij turun di mekkah sebelum hijrah. Sementara sabda Nabi yang difahami syiah sebagai pelantikan Ali sebagai khalifah terucap setelah haji wada, di ghadir khum, dalam perjalanan pulang ke Medinah.

Di sisi lain ada kejanggalan fatal dalam riwayat ini. Riwayat peristiwa ghadir khum tercantum dalam kitab-kitab hadits ahlussunnah, di antaranya adalah shahih muslim, Turmuzi, Nasai, Ahmad dan Thabrani. Seluruh riwayat itu mengatakan bahwa Nabi mensabdakan sabdanya di atas saat rombongan haji Rasulullah singgah di Ghadir Khum sepulang dari haji wada. Tapi riwayat yang dibaca oleh kang Jalal di tafsir Qurtubi menerangkan bahwa Nabi ditanya oleh Harits bin Numan Al Fihri di Mekah, yaitu di Abtah . Sementara itu kita ketahui bersama bahwa setelah haji wada, Nabi tidak pernah pergi lagi ke Mekah hingga beliau wafat sekitar tiga bulan setelah haji wada. Jadi peristiwa dalam riwayat yang dibaca oleh kang Jalal adalah fiktif.

Kang Jalal memang aktif menulis buku, salah satu buku terakhir kang Jalal berjudul Belajar Cerdas, membahas mengenai otak manusia. Pada pengantar buku kang Jalal menuliskan sebuah "promosi" bagi SMU Plus Muthahhari Bandung. Perlu anda tahu bahwa kang Jalal adalah kepala SMU Plus Muthahhari. Kang Jalal sering merasa terharu ketika mendengar seorang murid SMU Plus Muthahhari mengucapkan doa dan diikuti oleh murid-murid lainnya :

Ya Allah
Sehatkan tubuhku
Cerdaskan otakku
Bersihkan hatiku
Indahkan akhlaqku

Saya yakin pembaca sepakat dengan saya bahwa perbuatan yang dilakukan kang Jalal saat dialog bukanlah akhlaq terpuji. Ironis memang.


Untuk melihat bukti lengkap silahkan download artikel Akhlak Jalaludin Rahmat di menu download situs ini.

Dikirim pada 28 Juli 2009 di Ketahuilah!!!
Profile

“ Haji/Hajjah abdillahassunni ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 959.524 kali


connect with ABATASA